Membongkar Blunder Logika Sebby Sambom: Bukti Nyata TPNPB Cuci Tangan atas Tragedi Kemanusiaan di Jila

Membongkar Kontradiksi Sebby Sambom soal Tragedi Jila โ€” Jayapura, 9 September 2026. Klarifikasi Jubir TPNPB-OPM Sebby Sambom terkait insiden di Distrik Jila, Mimika, dinilai menimbulkan sejumlah kontradiksi, terutama mengenai status sembilan perempuan yang disebut sebagai โ€œpejuang kemerdekaanโ€ sekaligus dibantah sebagai bagian dari kelompok bersenjata. Pernyataan bahwa Kodap 10 tidak diakui dalam struktur TPNPB juga memunculkan pertanyaan mengenai rantai komando dan tanggung jawab kelompok bersenjata di lapangan. Sementara itu, tudingan Sebby terhadap aparat terkait tewasnya seorang warga masih menjadi klaim yang memerlukan verifikasi independen. Perbedaan keterangan tersebut menunjukkan perlunya penyelidikan menyeluruh untuk mengungkap fakta sebenarnya dalam tragedi Jila.

Membongkar Blunder Logika Sebby Sambom: Bukti Nyata TPNPB Cuci Tangan atas Tragedi Kemanusiaan di Jila
JAYAPURA, 9/9/2026 โ€” Klarifikasi Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, terkait insiden berdarah dan penyanderaan di Distrik Jila, Kabupaten Mimika pada 17 Agustus 2026 lalu, dinilai sarat dengan kontradiksi. Alih-alih membersihkan nama kelompoknya, pernyataan Sebby justru membongkar kebohongan dan menunjukkan kepanikan TPNPB dalam merespons kecaman publik atas pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) terhadap warga sipil.

Melalui rekaman suara pada Rabu (9/9/2026), Sebby bersikukuh membantah penyanderaan 9 wanita muda dan penembakan seorang ibu. Namun, penelusuran PapuaDarkSide.com menemukan tiga celah fatal yang mematahkan telak klaim propaganda tersebut.

Pertama, Kontradiksi Status Sandera.

Sebby menyatakan tidak ada penyanderaan, melainkan ke-9 wanita tersebut adalah "pejuang kemerdekaan" yang berjuang bersama TPNPB. Pernyataan ini adalah sebuah blunder logika yang luar biasa. Jika Sebby di awal mengklaim tidak ada pasukan TPNPB ("Kodap 10" tidak diakui di Jila), lantas bersama siapa para wanita itu berjuang?

Klaim bahwa warga sipil perempuan tiba-tiba menjadi kombatan adalah narasi usang yang sengaja dirakit untuk melegitimasi eksploitasi perempuan sebagai tameng hidup. TPNPB jelas gagal membedakan antara kombatan bersenjata dan warga sipil yang dieksploitasi di bawah ancaman.

Kedua, Taktik Pengecut "Cuci Tangan" Struktural.

Untuk lari dari tanggung jawab, Sebby menggunakan alibi bahwa "Kodap 10" tidak masuk dalam daftar Komando Nasional TPNPB di bawah Goliath Tabuni. Bantahan ini justru mempertegas dua hal: TPNPB sedang melakukan taktik lepas tangan secara pengecut terhadap faksi bersenjata mereka yang bertindak di luar kendali, atau secara de facto, struktur komando TPNPB memang rapuh dan terpecah belah sehingga aksi teror sporadis di daerah tidak bisa mereka pertanggungjawabkan.

Ketiga, Lagu Lama Menyalahkan Aparat Keamanan.

Terkait tragedi tertembaknya seorang ibu hingga jatuh ke jurang pada perayaan HUT RI, Sebby secara sepihak menuding TNI/Polri sebagai pelaku. Ini adalah SOP (Standard Operating Procedure) propaganda TPNPB setiap kali mereka terdesak dan kehilangan simpati rakyat. Mengkambinghitamkan aparat negara adalah cara termurah bagi TPNPB untuk menutupi kebrutalan mereka di lapangan, mengabaikan fakta dan kesaksian warga yang melihat langsung teror kelompok bersenjata di hari kejadian.

Klarifikasi Sebby Sambom pada 9 September ini bukanlah sebuah pembelaan yang berbobot. Sebaliknya, hal itu adalah bentuk pengakuan terselubung atas kejahatan kemanusiaan yang mereka lakukan. Publik Papua saat ini sudah terlalu cerdas untuk disuguhi rekayasa narasi dari kelompok kriminal yang semakin kehabisan ruang gerak.

Kebenaran di Jila tidak bisa ditutupi hanya dengan satu rekaman suara yang penuh dengan manipulasi fakta.
Last updated: 09 Sep 2026 16:28
โ† View All Berita