Kunjungan Dubes Inggris ke Jayapura Soroti Kakao Berkelanjutan, Bukan Agenda Politik

Program CARE Papua disebut telah melatih lebih dari 500 petani sejak Juni 2025 hingga Juli 2026 melalui pengembangan kakao, agroforestri, dan penguatan ekonomi kampung.

Kunjungan Dubes Inggris ke Jayapura Soroti Kakao Berkelanjutan, Bukan Agenda Politik
JAYAPURA, 9/9/2026 โ€” Kunjungan kerja Duta Besar Britania Raya atau Inggris untuk Republik Indonesia dan Timor-Leste, H.E. Dominic Jermey CVO, OBE, di Kampung Nanbom, Distrik Kemtuk, Kabupaten Jayapura, Papua, Selasa, 9 September 2026, menyoroti kerja sama pembangunan berkelanjutan melalui pengembangan kakao dan pemberdayaan petani lokal.

Kunjungan tersebut berlangsung dalam rangka peninjauan Program CARE Papua yang mendukung pengembangan sistem agroforestri kakao berkelanjutan di Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Keerom.

Agenda kunjungan meliputi peninjauan pembibitan kakao, rumah pengeringan pascapanen, persemaian atau pembesaran bibit, penyerahan bibit, penanaman kakao, hingga penyajian produk kakao oleh masyarakat setempat.

Kegiatan ini dihadiri sekitar 100 peserta, termasuk Wakil Gubernur Papua Aryoko Alberto Ferdinand Rumaropen, Wakil Bupati Jayapura Haris Richard S. Yocku, jajaran pemerintah daerah, tokoh adat, kelompok tani, unsur TNI dan Polri, serta perwakilan Kedutaan Besar Inggris di Jakarta.

Dalam sambutannya, Dominic Jermey menyatakan Pemerintah Inggris mendukung penyusunan Peta Jalan Kakao Berkelanjutan Provinsi Papua. Ia menilai sektor kakao memiliki potensi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat apabila dikembangkan secara bertanggung jawab.

Menurutnya, pendekatan pengembangan kakao melalui agroforestri dapat meningkatkan produksi yang berkelanjutan dan dapat ditelusuri, memperluas akses pasar, memperbaiki penghidupan petani, serta memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim.

Program CARE Papua dilaksanakan bersama PT Olam Food Ingredients atau OFI dan kelompok tani lokal. Program tersebut diarahkan pada peningkatan kapasitas petani, penerapan praktik pertanian yang baik, diversifikasi tanaman bernilai ekonomi, serta penguatan rantai pasok kakao berkelanjutan.

Kegiatan ini tercatat bahwa dalam periode Juni 2025 hingga Juli 2026, CARE Papua telah memberikan pelatihan kepada lebih dari 500 petani terkait praktik pertanian yang baik dan sistem agroforestri yang tangguh terhadap perubahan iklim.

Wakil Gubernur Papua Aryoko Alberto Ferdinand Rumaropen menyampaikan apresiasi terhadap program tersebut. Ia menyebut manfaat program mulai terlihat melalui hadirnya unit pembibitan kakao, rumah pengeringan biji kakao, dan kebun masyarakat yang diremajakan maupun dikembangkan kembali.

Ia berharap kerja sama pembangunan hijau itu dapat berlanjut dan diperluas ke wilayah sentra kakao lain di Papua agar manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak petani dan keluarga.

Kunjungan ini menunjukkan bahwa kerja sama Inggris di Papua, sebagaimana tercantum dalam laporan kegiatan, berfokus pada pembangunan ekonomi berbasis masyarakat, pengembangan pertanian kakao, pelestarian lingkungan, dan ketahanan iklim.

Dalam kegiatan ini, tidak terdapat keterangan mengenai dukungan Pemerintah Inggris kepada OPM maupun agenda pemisahan Papua dari Indonesia. Karena itu, setiap klaim politik mengenai dukungan asing terhadap suatu gerakan perlu diuji dengan dokumen, pernyataan resmi, dan fakta yang dapat diverifikasi.
Terakhir diperbarui: 09 Sep 2026 10:15
โ† Lihat Semua Berita