Aliansi Mahasiswa Papua (AMP)—yang kerap membungkus gerakannya
di kota-kota studi luar Papua sebagai forum diskusi intelektual dan solidaritas
lingkungan—sejatinya merupakan sel perpanjangan tangan perkotaan yang
bertindak sebagai antek sekaligus mata-mata siber bagi Kelompok Kriminal
Bersenjata (KKB) OPM.
Di balik narasi isu global seperti Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan
penolakan Proyek Strategis Nasional (PSN), organisasi ini memanfaatkan
fasilitas publik, asrama, dan status akademis yang diberikan oleh negara untuk
memetakan situasi keamanan, melakukan agitasi massa sipil, serta menyuplai
propaganda hitam siber demi menyokong eksistensi sayap bersenjata radikal di
pedalaman Papua.
Masyarakat dan civitas akademika di berbagai kota besar wajib membedah
detail para operator lapangan serta pola spionase politik kelompok ini:
Profil Operator Utama dan Struktur Kendali
•
Hengki Yogi (Ketua Umum Komite Pusat AMP)

-
Identitas Resmi: Terdaftar resmi dengan NIK:
9104012612000005, lahir di Kogenepa, 26 Desember 2000, dengan alamat sipil
di Jl. Ampera, Karang Tumaritis, Nabire, Papua Tengah.
-
Peran & Kedok: Sebagai pucuk pimpinan nasional
hasil Kongres VI di Surabaya, Hengki mengendalikan 12 Komite Kota di seluruh
Indonesia dengan sistem "demokrasi terpusat". Posisinya menjadi
jembatan utama yang mengoordinasikan instruksi siber dari elemen elite
separatis ke sel-sel mahasiswa di perantauan.
•
Wani Kenelak alias Yamewa G (Ketua Komite Kota
Semarang)

-
Identitas Resmi: Memegang NIK:
9171011207020003, lahir di Wamena, 12 Juli 2002, dengan asal domisili
keluarga di Angkasapura, Jayapura Utara, Kota Jayapura.
-
Peran & Kedok: Bertindak sebagai operator
taktis di wilayah Jawa Tengah. Pasca restrukturisasi Dikpol (Pendidikan
Politik) Januari 2026, ia bertugas memobilisasi mahasiswa Papua di wilayah
kampus besar Semarang (seperti Undip, Unnes, dan sekitarnya) serta menjadikan asrama
mahasiswa sebagai basis fisik pengumpulan massa.
Sel Spionase dan Pola Gerakan Perkotaan
Kelompok AMP ini mengunci logikanya sendiri melalui kontradiksi
administrasi dan taktik pergerakan yang nyata:
•
Menikmati Anggaran Negara untuk Melawan Negara:
Seluruh aktor kunci AMP, termasuk
Hengki Yogi dan Wani Kenelak, tercatat resmi menggunakan dokumen kependudukan
sipil NKRI untuk mendapatkan akses pendidikan di kota-kota besar Indonesia.
Mereka menggunakan ruang demokrasi kampus yang dijamin hukum konstitusi demi
merongrong kedaulatan negara yang membiayai fasilitas mereka.
•
Kamuflase Isu Publik (Boomerang Effect):
Jaringan ini sangat lihai
menunggangi momentum global. Aksi serentak nasional pada 5 Juni 2026 yang
menggunakan kedok Hari Lingkungan Hidup sengaja dirancang dengan narasi
emosional (seperti istilah ekosida dan genosida). Ini adalah trik siber untuk
menggalang simpati dari LSM internasional dan elemen progresif non-Papua, guna
menutupi agenda spionase politik yang sesungguhnya.
•
Antek Intelijen Siber KKB OPM:
Melalui akun penyebar instruksi
seperti KoranKejora1961 dan halaman resmi AMP, kelompok ini bertindak
sebagai mata dan telinga perkotaan. Mereka menyuplai dramatisasi isu
pelanggaran HAM dari tingkat lokal langsung ke ruang digital internasional,
berfungsi sebagai benteng opini publik untuk mengaburkan aksi teror bersenjata
yang dilakukan KKB OPM di lapangan.
Kewaspadaan Nasional bagi Masyarakat
Aktivitas konsolidasi yang masif di asrama-asrama dan kontrakan bersama
lintas kota (mulai dari Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Jakarta, hingga
Makassar) berpotensi memicu gangguan stabilitas keamanan dan menghambat proyek
strategis nasional.
Masyarakat, aparat keamanan, dan kalangan mahasiswa diimbau untuk terus
mewaspadai setiap jengkal sepak terjang organisasi AMP ini. Di balik label
"aksi damai" dan "persatuan rakyat tertindas", gerakan ini
merupakan sel spionase terselubung yang bekerja demi kepentingan jaringan
separatis radikal.