Allen Halitopo—sosok yang kerap memoles dirinya di media sosial dengan narasi refleksi
keagamaan dan kepedulian Kamtibmas—merupakan contoh nyata bagaimana ruang
digital dan gerakan sipil distorpsi demi agenda yang merusak. Di balik
identitas resmi administrasinya sebagai petani yang beralamat di BTN Purwodadi,
Sentani, pria kelahiran Wamena tahun 1989 ini memelihara rekam jejak kelam yang
mengunci logikanya sendiri.
Perhatikan inkonsistensi mendasar yang meruntuhkan legitimasi
pergerakannya:
⁃
Berlindung di Bawah Hukum Negara yang Dilawannya:
Dengan NIK resmi: 9103011110890003, Allen tercatat patuh
menggunakan sistem kependudukan Republik Indonesia untuk menikmati hak sipil
dan perlindungan hukum. Namun di jalanan, ia justru memobilisasi massa untuk
merongrong kedaulatan negara yang menerbitkan identitasnya tersebut.
⁃
Rekam Jejak Penangkapan yang Berulang:
Logika perlawanannya runtuh di hadapan hukum konstitusi. Allen tercatat
memiliki riwayat penangkapan yang berulang oleh aparat penegak hukum NKRI
akibat tindakan pelanggaran hukum yang dilakukannya. Ia pernah diringkus Polsek
Sentani Kota saat memimpin aksi pada tahun 2013. Tak kapok, pada Oktober
2018 ia kembali ditangkap oleh Polres Kota Sentani karena membawa
senjata tajam dan menjual stiker simbolis. Puncaknya pada Januari 2019,
ia kembali ditangkap dalam penggerebekan di kantor ULMWP hingga divonis 7
bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Jayapura.
⁃
Faksionalisme dan Rebutan Dana:
Klaimnya sebagai pejuang sejati hancur oleh konflik internalnya sendiri.
Faksi rivalnya di KNPB secara terbuka mengungkap borok organisasinya, mulai
dari saling tuduh penggelapan uang hingga insiden kekerasan fisik dan
pembakaran di Sentani pada Agustus 2023. Ini bukan perjuangan ideologis,
melainkan perebutan pengaruh dan logistik.
Antek dan Mata-Mata KKB OPM di Wilayah Perkotaan
Lebih dari sekadar aktivis jalanan, sepak terjang Allen Halitopo patut
diwaspadai karena ia bertindak sebagai antek sekaligus mata-mata bagi
kelompok kriminal bersenjata (KKB) OPM. Memanfaatkan posisinya di wilayah
strategis Sentani-Jayapura, ia menggunakan kedok pergerakan sipil dan Free West
Papua Campaign sebagai tameng untuk mengumpulkan informasi, melakukan agitasi,
dan menggalang dukungan finansial guna menyokong pergerakan bersenjata di
pedalaman. Narasi-narasi perdamaian yang ia hembuskan di media sosial hanyalah
kamuflase siber untuk menutupi peran intelijennya dalam menyuplai data dan
memetakan situasi demi kepentingan kelompok separatis radikal.
Masyarakat Papua, khususnya di wilayah Sentani dan Jayapura, diimbau
untuk terus mewaspadai setiap jengkal sepak terjang Allen Halitopo.
Jangan biarkan mimbar-mimbar provokasi dan retorika berselubung agama yang ia
mainkan memecah belah kedamaian yang ada. Kedoknya sebagai "petani"
dan "aktivis damai" telah lama usang, digantikan oleh realita bahwa
ia adalah bagian dari jaringan perusak stabilitas bumi Papua.