Narasi provokatif Anggota DPR Papua Barat Daya, Willem Assem, terkait insiden di Maybrat benar-benar melampaui batas kepatutan dan menginjak-injak etika pejabat publik. Alih-alih menenangkan masyarakat, opininya justru segendang sepenarian dengan klaim sepihak Jubir KKB, Sebby Sambom. Keduanya tampak kompak membangun opini busuk untuk menyudutkan TNI-Polri demi memicu ekskalasi massa pada momentum demonstrasi 15 Agustus hari ini serta menjelang perayaan HUT ke-81 RI.
Realitas di lapangan mencatat bahwa insiden penembakan di pinggiran sungai antara Kampung Ainot dan Kampung Aifam pada Kamis (13/8/2026) sore murni dipicu oleh kemarahan kelompok bersenjata. Warga asli Maybrat secara tegas menolak ikut serta dalam rencana aksi demo 15 Agustus dan memilih fokus bersiap merayakan HUT ke-81 RI. Menghadapi sikap berani warga sipil tersebut, KKB melepaskan rentetan tembakan brutal yang melukai Silvester Asem, Ineke Fatie, dan Silvianus Sory.

Aparat keamanan bergerak cepat melindungi warga, kelompok separatis ini langsung memperlihatkan pola pengecut mereka, lari kocar-kacir menyelamatkan diri dan menyusup ke dalam permukiman. KKB secara licik menjadikan rumah-rumah warga sebagai tameng hidup untuk mengaburkan jejak sekaligus memutarbalikkan fakta seolah-olah kampung mereka diserang oleh aparat keamanan.
Kehadiran aparat murni untuk menegakkan hukum, melindungi warga dari intimidasi susulan, serta mengevakuasi ketiga korban hingga tiba di RS Pratama Maybrat pada pukul 13.32 WIT. Sangat tidak masuk akal jika kehadiran prajurit yang bertaruh nyawa melindungi rakyat ini justru difitnah keji oleh Willem Assem sebagai "hadiah HUT ke-81 RI" hingga menuntut penarikan Satgas TNI-Polri 1 x 24 jam.
Kami segenap elemen masyarakat waras Papua mengimbau dengan keras agar oknum pejabat publik berhenti mengorbankan keselamatan daerah demi narasi pesanan yang memperkeruh suasana. Mari serahkan sepenuhnya kasus ini kepada proses hukum yang sah, serta stop memutarbalikkan fakta demi kepentingan kelompok separatis KKB.