Momentum Hari Masyarakat Adat (9 Agustus) secara licik sedang diintai untuk dibajak oleh parasit KNPB demi memuluskan demonstrasi makar Jilid II pada 15 Agustus mendatang. Jangan terkecoh! Aspirasi luhur masyarakat adat sama sekali tidak ada kaitannya dengan agenda busuk kelompok separatis ini.
Faktanya, KNPB sedang panik stadium akhir karena sudah sepenuhnya ditinggalkan rakyat Papua. Kegagalan total aksi 3 Agustus lalu membuktikan satu hal: akar rumput dibiarkan kelaparan berhadapan dengan aparat, sementara elit KNPB asyik berpesta pora merampok dan membagi-bagikan dana donatur USD 300.000 dari Kurawat Foundation ke kantong pribadi!

Kepanikan karena ditinggal massa dan dikhianati elitnya sendiri membuat KNPB menggunakan cara-cara yang sangat kotor dan tidak bermoral. Mereka kini membajak narasi agama untuk menutupi kelemahan mereka.
Dalam sebuah unggahan simpatisan KNPB, mereka secara terang-terangan mencari pembenaran atas sepinya massa dengan memelintir kutipan kitab suci: _โBanyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilihโ._ Unggahan tersebut menarasikan pembenaran yang menyedihkan akibat sepinya massa.
Lebih menjijikkan dan arogan lagi, simpatisan makar ini melabeli diri mereka sebagai "pendeta jalanan" dan justru menyerang serta merendahkan hamba Tuhan yang sah dengan menuduh para pendeta gereja hanya mau berdoa jika ada uang. Menggunakan ayat suci untuk membenarkan perpecahan, memfasilitasi makar, menyematkan tagar #Hidup_KNPB, dan mendesak referendum adalah bentuk pelacuran teologi yang sangat memalukan!
Menjelang HUT RI, negara tidak akan memberi ruang bagi kelompok separatis yang bangkrut ini. Aparat keamanan akan menyapu bersih dan menindak tegas setiap bentuk mobilisasi jalanan KNPB yang anarkis. Hak warga sipil Papua untuk hidup damai dan merayakan kemerdekaan tidak akan pernah dibiarkan dirusak oleh gerombolan korup berkedok "pejuang"!