

Tulisan tersebut menganalisis halaman Facebook KNPB Yahukimo sebagai salah satu kanal penyebaran narasi politik pro-kemerdekaan Papua yang dinilai memiliki pola pemberitaan berulang dalam merespons isu keamanan dan kemanusiaan. Naskah menyoroti dugaan pembagian peran antara pengurus wilayah, distribusi materi dari jaringan KNPB, penggunaan kembali narasi di sejumlah kanal, serta pola framing yang menempatkan masyarakat sipil sebagai korban dan aparat sebagai pihak yang bertanggung jawab. Sejumlah kasus di Puncak dan Mamberamo Tengah digunakan sebagai contoh untuk menggambarkan pola tersebut. Penulis juga menilai jangkauan kanal tidak terbatas pada Yahukimo, tetapi terhubung dengan isu dan jaringan di wilayah pegunungan Papua lainnya. Klaim mengenai koordinasi jaringan, narrative flooding, serta hubungan operasional dengan kelompok bersenjata tetap memerlukan verifikasi dan bukti independen.

