Farid Gaban: Ironi Demagog Elit Media, Penikmat Dana Asing The Asia Foundation Amerika dan Resonansi DNA “Marxisme”

Tulisan ini mengkritik Farid Gaban dengan menilai narasi yang disampaikannya mengenai kondisi Orang Asli Papua (OAP) sebagai bentuk propaganda yang dianggap memelintir data demografi dan mengabaikan kebijakan pemerintah seperti Dana Otsus, pemekaran daerah, serta afirmasi politik bagi OAP. Penulis berpendapat bahwa gaya penyampaian Farid Gaban lebih bersifat agitasi politik daripada kritik jurnalistik, karena dinilai membangun narasi konflik antara masyarakat adat dan negara serta menonjolkan sentimen yang berpotensi memecah belah masyarakat.

Farid Gaban: Ironi Demagog Elit Media, Penikmat Dana Asing The Asia Foundation Amerika dan Resonansi DNA “Marxisme”
Pernyataan provokatif Farid Gaban di Suara Papua—memelintir persentase 38% demi menciptakan ilusi bahwa Orang Asli Papua (OAP) sedang menyusut menuju kepunahan—bukanlah sekadar blunder intelektual. Cacat logika ini adalah kotak pandora yang menelanjangi wajah aslinya: ia bukan lagi sekadar jurnalis pencerah, melainkan ideolog agitprop (agitasi-propaganda).

Di sinilah letak ironi terbesarnya. Mari kita bedah profilnya: Lahir di Wonosobo (1961), Farid Gaban adalah figur yang duduk di puncak rantai privilese. Ia malang melintang sebagai elit media—mantan Redaktur Eksekutif Republika, Redaktur Pelaksana Tempo, hingga penikmat dana asing fellowship The Asia Foundation di San Fransisco, Amerika Serikat.

Ia memoles citranya dengan romantisasi sebagai "petani lereng Sindoro" yang menyatu dengan debu (Dust in the wind). Namun, di balik privilese urban, pendidikan sarjana, dan akses internasionalnya, narasi yang ia jual ke publik justru agitasi pertentangan kelas murahan. Sang elit media menunggangi isu kaum marjinal semata-mata untuk mendelegitimasi negara.

Kalangan akademisi mencatat narasi Farid di Papua adalah duplikasi sempurna dari gaya propaganda Marxisme Modern. Jika dulu Kelompok Marxisme Indonesia menggunakan taktik Turba (Turun Ke Bawah) untuk membenturkan petani dan tuan tanah, Farid menggunakan literasi digital untuk membenturkan masyarakat adat dengan negara. Polanya telanjang:

* Kebutaan yang Disengaja: Ia memfitnah pemekaran Papua sebagai alat penjajahan, namun secara sadar menyembunyikan triliunan Dana Otsus dan penguncian mutlak 100% kursi Gubernur/Wagub, Bupati, Walikota dan mayoritas birokrasi eksklusif bagi OAP. Mengapa disembunyikan? Karena keberhasilan negara haram diakui dalam kamus agitator.

* Taktik Belah Bambu: Ia sengaja mengeksploitasi kemarahan dengan membenturkan OAP dan pendatang, menebar sentimen xenophobia yang sangat berbahaya demi merawat ilusi "rakyat vs penindas".

Sepak terjang radikal yang anti-pembangunan ini akhirnya memaksa pengamat menarik garis merah pada akar historis sang penulis di tanah kelahirannya, Wonosobo. Meski kini dikenal sebagai basis religius (NU), sejarah tak bisa menghapus bahwa kawasan tersebut pernah menjadi lumbung subur basis "merah" marxisme sebelum tragedi 1965.

Pertanyaan logis pun mengemuka: Apakah kebencian struktural, pesimisme absolut terhadap negara, dan gaya agitasi ala Barisan Tani Indonesia (BTI) yang terus diproduksi Farid Gaban adalah sisa gema (echoes) dari DNA retorika Marxisme di tanah kelahirannya?

Farid Gaban telah menelanjangi dirinya sendiri. Di balik narasi romantis tentang lingkungan dan rakyat kecil, terselip pisau propaganda yang dirancang bukan untuk membangun Indonesia, melainkan untuk me-reset(menghancurkan) optimisme bangsa. Publik harus berhenti menelan mentah-mentah tulisan Farid; ini bukan kritik kebijakan, ini adalah demagogi beracun yang sengaja ditebar untuk melumpuhkan akal sehat nasional.
Last updated: 27 Aug 2026 21:32
← View All Rekam-jejak