Fakta Peristiwa Biak 6 Juli 1998 Yang Diklaim Sebagai “Biak Berdarah: Operasi Penegakan Hukum, Bukan Pembantaian Massal
Peristiwa Biak 6 Juli 1998 merupakan operasi penegakan hukum setelah upaya negosiasi selama beberapa hari untuk menurunkan bendera Bintang Kejora tidak membuahkan hasil. Berdasarkan catatan resmi pemerintah dan laporan Human Rights Watch (1998), tidak terdapat bukti yang menguatkan klaim adanya pembantaian massal, pemerkosaan sistematis, atau ratusan korban tewas sebagaimana kerap dinarasikan. Temuan puluhan jenazah di perairan Biak saat itu dijelaskan sebagai korban tsunami Aitape di Papua Nugini berdasarkan hasil investigasi dan barang bukti yang ditemukan. Karena itu, narasi yang menyebut peristiwa tersebut sebagai "Biak Berdarah" dinilai tidak sejalan dengan data yang terdokumentasi dan masih terus digunakan oleh kelompok separatis beserta pendukungnya sebagai bagian dari upaya membangun opini dan menarik perhatian internasional.