Amunisi Hibah dan Amnesia HAM: Ketika TPNPB Mengeksekusi Saudara Sendiri, Industri Advokasi HAM Mendadak Bisu

Tulisan ini menyoroti klaim bahwa TPNPB-OPM melakukan pembunuhan terhadap tiga warga Papua di Yahukimo yang dituduh sebagai informan tanpa proses hukum, serta mengkritik apa yang dipandang sebagai kurangnya respons dari sejumlah lembaga dan aktivis HAM. Penulis berpendapat bahwa perlindungan hak asasi manusia harus diterapkan secara konsisten kepada setiap korban, tanpa membedakan pelaku maupun latar belakang politiknya. Selain itu, tulisan ini mempertanyakan efektivitas ekosistem advokasi HAM di Papua dan menyerukan investigasi yang independen, transparan, serta kecaman terhadap setiap bentuk kekerasan terhadap warga sipil.

Amunisi Hibah dan Amnesia HAM: Ketika TPNPB Mengeksekusi Saudara Sendiri, Industri Advokasi HAM Mendadak Bisu
Ringkasan :
- TPNPB Eksekusi 3 warga papua karena dituduh mata-mata
- Aktivis HAM mendadak Autis
- Tujuan logis Hibah Kurawal USD 300.000

Yahukimo, 22 Juli 2026 - TPNPB-OPM Kodap XVI Yahukimo secara terbuka mengumumkan “eksekusi mati” terhadap seorang perempuan asli Yahukimo di jalan Trans Papua pada 20 Juli kemarin. Tuduhannya hanya “sudah termasuk DPO” dan dituduh agen intelijen. Tanpa pengadilan. Tanpa bukti. Tanpa proses hukum apa pun. Cukup keputusan sepihak.

Di hari yang sama, mereka membunuh Brigpol Fredi Lukas Awes di Komplek Jalan Pertanian, Distrik Dekai. Polisi resmi menyebutnya pembunuhan. Jenazah sudah dipulangkan ke Sentani.

Tidak sampai 1 x 24 jam, pada 21 Juli 2026, TPNPB kembali mengeksekusi sepasang laki-laki dan perempuan Papua tak berdaya ditempat yang sama, di Jalan Trans Papua, Yahukimo, dengan tuduhan yang sama, Antek Intelijen. 

KATA RAKYAT PAPUA

Terkutuklah kalian semua, TPNPB. Kalian tidak lebih dari sekelompok A*njing pengecut busuk yang bersembunyi di balik senjata. Mengeksekusi saudara sendiri, direkam di depan kamera, lalu dengan tidak tahu malunya berteriak tentang "perjuangan" dan "membela rakyat". Rakyat mana yang kalian bela dengan menumpahkan darah sesama warga Papua? 

Kalian selalu berteriak, “Kami lawan penjajah!”
Pertanyaannya: Siapa sebenarnya yang sedang menjajah dan meneror rakyat hari ini?

Faktanya, kalianlah yang terus-menerus menggunakan teror pengecut ini untuk menindas saudara sendiri—terutama saat kalian semakin terjepit, tidak berdaya, dan kehabisan ruang gerak serta propaganda murahan. Eksekusi itu sangat tidak berperikemanusiaan. Namun wajar saja, karena tindakan kalian memang sudah melepaskan seluruh rasa kemanusiaan itu sendiri. Artinya kalian adalah BINATANG BIADAB.

Namun, di balik kekejaman yang telanjang itu, ada hal yang jauh lebih tidak berperikemanusiaan: mereka yang mengklaim sebagai pembela HAM, namun mendadak bisu saat melihat video eksekusi ini.

Ke mana suara Komnas HAM?
Ke mana suara Anis Hidayah?
Ke mana suara Frits Ramandey di Papua?
Ke mana suara Socrates Yoman?
Ke mana perginya kelantangan isu HAM yang biasanya menggema setiap hari?

Ketika ada klaim atau tuduhan bahwa TNI menembak atau menahan seseorang, para aktivis ini bergerak secepat kilat. Mereka langsung turun ke lapangan, menggelar konferensi pers, membantah status anggota OPM, dan berteriak lantang menuduh adanya penyiksaan. Cepat, tanggap, dan penuh semangat.

Tetapi, ketika TPNPB-OPM mengeksekusi perempuan dan laki-laki Papua di jalan umum dengan tuduhan sepihak sebagai “DPO” atau “intel”, para tokoh seperti Komnas HAM, Anis Hidayah, Frits Ramandey, hingga Natalius Pigai semuanya diam. Mereka bersikap masa bodoh, seolah-olah nyawa warga Papua yang melayang di tangan milisi itu tidak pernah ada.

Sekarang arahnya menjadi semakin jelas dan terang benderang. Ini tujuan logis dari dana hibah seperti yang dikucurkan Kurawal Foundation sebesar USD 300.000 khusus untuk isu Papua. Slah satunya dipakai untuk membiayai dan merawat ekosistem keheningan yang membiarkan kegiatan biadab seperti ini terus terjadi.

Rangkaian kebiadaban ini sudah terlalu panjang untuk terus didiamkan:
- Menembak pesawat perintis yang menjadi urat nadi logistik masyarakat pegunungan? Komnas HAM diam, LBH Papua seolah berpesta dalam keheningan.
- Membakar pesawat Susi Air dan AMA? Komnas HAM mendadak autis, Amnesty International Indonesia enggan bersuara keras.
- Membunuh pilot lokal maupun asing? Komnas HAM mendadak Impoten, ELSHAM Papua tampak puas dengan narasi normatifnya.
- Mengeksekusi sesama orang Papua? Komnas HAM mendadak amnesia, Human Rights Monitor pura-pura linglung dan memalingkan muka.
- Membunuh anggota polisi di jalanan? Komnas HAM justru menuntut evaluasi pendekatan keamanan, sementara para donor seperti Kurawal Foundation seolah bertepuk tangan di balik layar.

Semua kebrutalan itu dilegitimasi atas nama “pembebasan”. Padahal, yang dibebaskan hanyalah nafsu kekerasan dan ketakutan mereka sendiri yang makin terdesak oleh realitas.

KAMI RAKYAT PAPUA MENGUTUK TINDAKAN KEJI INI! 

Jika tidak ada tindakan tegas, investigasi jujur, dan kecaman resmi atas eksekusi Yahukimo ini, maka runtuhlah legitimasi moral kalian. Terkutuklah Komnas HAM, LBH Papua, ELSHAM Papua, Human Rights Monitor, Frits Ramandey, Anis Hidayah, Pendeta Socrates Yoman, dan semua kelompok yang selama ini hanya berani menuntut evaluasi keamanan, tetapi menutup mata rapat-rapat saat rakyat Papua dihabisi oleh bangsanya sendiri.
Last updated: 29 Jul 2026 02:20
← View All Berita