Sebuah dinamika ruang digital yang sangat disayangkan melihat bagaimana media Nadi Papua begitu lihai memutarbalikkan fakta demi memamerkan framing media internasional seperti Reuters, Associated Press (AP), ABC Australia, Al Jazeera, The Guardian, hingga sejumlah media Pasifik. Mereka secara sistematis berupaya mengubah tragedi kemanusiaan pembunuhan Kapten Nicolas oleh TPNPB. Namun, seluruh klaim tersebut langsung patah total ketika dibenturkan dengan logika dingin dan fakta telak di lapangan.
Klaim ruang berimbang mengenai narasi pesawat PT Associated Mission Aviation (AMA) mengangkut logistik militer adalah kebohongan yang menghina akal sehat. Data Kementerian Perhubungan menegaskan bahwa PT AMA adalah maskapai perintis milik Keuskupan Katolik yang murni menjalankan misi kemanusiaan selama 67 tahun. Saat diserang di Bandara Ipdeheik, data manivest penumpangnya murni berisi 7 warga sipil asli Papua termasuk tiga perempuan, tanpa ada satu pun pasukan militer.
Membungkus pembunuhan berencana dengan eufemisme keren seperti "fighters seeking independence" adalah tindakan yang menjijikkan. Hasil visum RS Bhayangkara membuktikan Kapten Nicholas F. Gosselin tewas akibat luka tembak tempel tepat di kepala dan hantaman benda tumpul. Menghancurkan pesawat sipil dan mengeksekusi pilot asing berusia 29 tahun adalah tindakan terorisme penerbangan global berdasarkan Konvensi Montreal 1971, bukan sebuah gerakan politik.
Ironi terbesar yang ditutupi media asing adalah fakta bahwa kelompok bersenjata ini justru menghancurkan akses dasar masyarakat Papua. Akibat pembunuhan keji ini, PT AMA terpaksa menghentikan total operasional penerbangan perintisnya di wilayah pegunungan. Kelompok yang diagungkan sebagai "pejuang" ini nyatanya sukses mencekik leher kemanusiaan dengan memutus satu-satunya urat nadi pengiriman obat, makanan, dan guru untuk warga lokal.

Memanfaatkan kematian pemuda asal Connecticut ini sebagai momentum solidaritas Melanesia dan dekolonisasi adalah logika lompat jauh yang menggelikan. Komunitas aviasi global dan organisasi gereja mengutuk keras aksi biadab ini sebagai murni kriminalitas sadis. Menggunakan tumpahan darah seorang pekerja kemanusiaan demi panggung politik regional justru menunjukkan betapa egois dan bangkrutnya narasi yang diusung oleh kelompok separatis.
Framing media internasional yang dipuja oleh Nadi Papua sejatinya hanyalah kedok jurnalisme sesat yang berlindung di balik frasa "perspektif luas". Data lapangan tidak bisa berbohong: korban sipil tewas, pesawat Katolik dibakar, dan hak hidup ribuan warga pedalaman Papua dirampas. Pihak yang menutup mata dari fakta riil ini dan tetap menyebutnya perjuangan politik pada dasarnya sedang melegitimasi tindakan terorisme