Ringkasan :
- Tulisan Ernest Pugiye di odiyaiwuu.com bukanlah analisis filsafat sejati
- Indonesia lahir dari penghormatan mendalam terhadap tanah dan leluhur
- Argumen mengenai angka usia kemerdekaan adalah kekeliruan kategori yang parah
- Tuduhan genosida kemanusiaan di Papua adalah klaim politik, bukan fakta hukum
- Metafora pohon tua dan teori primitive accumulation milik Marx digunakan secara keliru
- Sangat angkuh mengklaim bahwa hanya Papua yang memiliki filsafat tanah sebagai ruang sakral kehidupan
Tulisan Ernest Pugiye di odiyaiwuu.com bukanlah analisis filsafat sejati, melainkan elevasi narasi partisan yang angkuh dibungkus metafora. Ia mengklaim berbicara atas nama 252 suku, filsafat Papua, dan kebenaran kemanusiaan. Namun, ia justru menuduh Indonesia tidak paham filsafat kehidupan melalui jargon pohon dan kutipan Marx yang selektif.
Indonesia lahir dari penghormatan mendalam terhadap tanah dan leluhur. Konstitusi 1945, Pancasila, dan arsitektur hukum adat bertumpu pada penghormatan ruang hidup bersama. Pasal 18B UUD 1945 dan UU Nomor 5 Tahun 1960 (UUPA) secara eksplisit mengakui masyarakat adat. Lewat Otonomi Khusus Papua (UU 21/2001 & UU 2/2021), negara mengalokasikan dana triliunan, kursi istimewa di DPRP, serta mengakui hak ulayat. Dunia internasional dan PBB pun telah sah menerima hasil Pepera 1969.
Argumen mengenai angka usia kemerdekaan adalah kekeliruan kategori yang parah. Usia sebuah negara sama sekali tidak menentukan keabsahan kedaulatan atas wilayahnya. India tetap mempertahankan Jammu-Kashmir, Tiongkok mempertahankan Tibet-Xinjiang, dan AS mempertahankan Hawaii. Tidak ada filosofis universal yang menyatakan wilayah sah harus dilepaskan setelah sekian tahun.
Tuduhan genosida kemanusiaan di Papua adalah klaim politik, bukan fakta hukum. Konvensi Genosida 1948 memiliki definisi ketat yang mensyaratkan adanya niat (intent) pemusnahan kelompok. Tidak ada satu pun badan PBB, ICC, atau pengadilan internasional yang menyatakan Indonesia melakukan genosida. Narasi aktivis diaspora West Papua hanyalah tipuan retorika yang lari dari ketatnya koridor hukum.
Metafora pohon tua dan teori primitive accumulation milik Marx digunakan secara keliru. Setiap negara modern mengelola tanah adat di bawah kerangka kedaulatan nasional, seperti di Bali, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Jika metafora pohon diterapkan mentah-mentah, dunia akan menghadapi fragmentasi abadi.
Sangat angkuh mengklaim bahwa hanya Papua yang memiliki filsafat tanah sebagai ruang sakral kehidupan.Seluruh arsitektur budaya Indonesia—mulai dari konsep tanah air, sila Ketuhanan, hingga Bhinneka Tunggal Ika—lahir dari kesadaran bahwa tanah dan leluhur bukan benda mati. Para pendiri bangsa seperti Soekarno, Hatta, Silas Papare, hingga Frans Kaisepo tidak pernah memperlakukan tanah sebagai komoditas murni. Indonesia diakui dunia sebagai contoh unity in diversity yang menolak model homogenitas Eropa.
Filsafat sejati tidak takut kontradiksi, sedangkan tulisan Ernest takut pada fakta empiris dan realitas hukum.