Media papuanewsonline.com kembali menginjak injak marwah dan nadi kebenaran jurnalisme melalui artikel dan gambar yang diklaim menunjukkan barang rampasan dari Aparat dan anggota KKB Ndugama memegang kepala manusia sebagai bentuk ancaman penolakan HUT RI ke-81 di Papua.
Namun, berdasarkan hasil uji forensik digital, gambar tersebut terbukti kuat sebagai hasil rekayasa digital (hoaks).
Berikut adalah temuan fakta yang mematahkan keaslian gambar tersebut, kita mulai dari gambar yang paling meresahkan :
1. Objek Editan (Palsu): Deteksi Deep Learning Mantranet menunjukkan bahwa objek menyerupai "kepala manusia" yang dipegang pria tersebut adalah hasil manipulasi perangkat lunak (sisipan digital), bukan objek nyata yang difoto secara langsung.

2. Gambar Tempelan (Splicing): Analisis Kompresi (Filter GHOST dan DCT) serta jejak sensor kamera membuktikan bahwa sosok pria bersenjata tersebut tidak berada di lokasi hutan tersebut. Tubuh pria itu dipotong dari gambar lain dan ditempelkan ke latar belakang hutan (komposit).

3. Jejak Pemotongan (Cropping): Analisis Tingkat Kesalahan (Error Level Analysis/ELA dan Laplacian) menunjukkan garis batas luar tubuh pria yang tidak wajar, mengonfirmasi proses manipulasi cropping latar belakang menggunakan software semacam Photoshop.

Gambar yang digunakan sebagai ilustrasi ancaman dalam artikel tersebut bukanlah dokumentasi peristiwa nyata. Gambar itu adalah komposit atau fotomontaseโpenggabungan beberapa foto yang berbeda untuk menciptakan sebuah adegan palsu yang provokatif, sehingga tidak memiliki nilai kebenaran sebagai bukti visual jurnalistik.
Lalu bagaimana dengan dua gambar lainnya? Berikut faktanya :
Lalu bagaimana dengan dua gambar lainnya yang menunjukkan gambar senjata, munisi dan barang lainnya serta dikerumuni oleh beberapa anggota KKB?
Faktanya, kedua foto tersebut pernah diunggah pada tanggal 3 dan 4 Mei 2023 oleh media IDN Times dan Suara Papua


Pada akhirnya, ketika fakta tidak lagi berpihak, yang didaur ulang adalah ketakutan. Inilah pola klasik KKB : ketika kalah, terjepit, dan frustrasi, mereka kembali mengorek foto-foto lama, memolesnya dengan manipulasi, lalu menjualnya sebagai ancaman baru untuk menebar teror dan membangun ilusi kekuatan. Fakta bahwa sejumlah foto dalam narasi tersebut ternyata merupakan materi yang telah dipublikasikan sejak 2023 memperlihatkan betapa rapuhnya moral dan propaganda yang dibangun di atas kebohongan.