Masyarakat Adat 7 Wilayah Besar Papua Kecam Keras Aksi Kebengisan OPM! Kehadiran Egianus Kogoya Hanya Tambah Korban Saudara Sendiri

Surat terbuka yang disebut berasal dari para tokoh adat tujuh wilayah adat Papua (Tabi, Saireri, Anim Ha, La Pago, Mee Pago, Domberai, dan Bomberai) mengecam pembunuhan warga sipil di Yahukimo pada 20โ€“21 Juli 2026 dan menyebut tindakan tersebut sebagai kekerasan terhadap sesama Orang Asli Papua. Narasi ini juga menyatakan penolakan terhadap kembalinya Egianus Kogoya karena dinilai berpotensi memicu lebih banyak korban, serta menegaskan harapan masyarakat adat akan perdamaian, keamanan, pembangunan, dan masa depan yang lebih baik bagi generasi Papua.

Masyarakat Adat 7 Wilayah Besar Papua Kecam Keras Aksi Kebengisan OPM! Kehadiran Egianus Kogoya Hanya Tambah Korban Saudara Sendiri
Jayawijaya, 26 Juli 2026 โ€” Para orang tua adat dari tujuh wilayah adat besar Papua (Tabi, Saireri, Anim Ha, La Pago, Mee Pago, Domberai, dan Bomberai) mengeluarkan Surat Terbuka yang secara tegas mengecam pembantaian warga sipil oleh TPNPB-OPM di Yahukimo pada 20โ€“21 Juli 2026.
 
Dalam surat bertanggal 23 Juli 2026, mereka menyatakan hati hancur melihat darah anak-anak Papua kembali membasahi tanah leluhur. Eksekusi sepasang suami-istri dan seorang perempuan suku Unaukam di Jalan Trans Papua disebut sebagai pembantaian saudara sendiri, bukan perang membela rakyat. โ€œOrang Papua tidak pernah diajarkan untuk memotong saudaranya,โ€ tegas mereka.
 
Para tokoh adat 7 wilayah besar papua tegas menolak kemunculan kembali Egianus Kogoya, masyarakat adat memperingatkan bahwa kehadiran dan aksi mereka hanya akan menimbulkan lebih banyak korban saudara sendiri.
 
Ada dugaan kuat bahwa kelompok Egianus Kogoya telah kehabisan uang dan logistik miliaran hasil bayaran atas penyerahan sandera pilot Selandia Baru, Philip Mark Mehrtens pada 2024 lalu, sehingga turun gunung lagi semata-mata untuk mencari sumber dana baru dengan cara memeras rakyat.
 
 
Surat tersebut menyiratkan motivasi Egianus Kogoya kembali nyatakan perang bukan untuk membela rakyat papua, melainkan kembali memeras dan membunuh saudara sendiri.
 
Masyarakat adat 7 wilayah besar menolak semua bentuk kekerasan OPM. Mereka mendambakan damai, pembangunan, dan masa depan cerah anak cucu keturunannya.
 
Papua tetap bagian sah NKRI. Suara adat ini harus didengar.
 
Jaga persatuan dengan fakta.
 
NKRI Harga Mati! Papua Damai, Aman, dan Terus Bangkit.
Last updated: 29 Jul 2026 02:22
โ† View All Opini