YAHUKIMO – Satgas Pamtas Mobile RI-PNG Yonif 5 Marinir berhasil memberikan
pukulan telak terhadap jaringan logistik Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) OPM
di Yahukimo. Lewat sebuah operasi senyap pada Sabtu (3/10/2026) dini hari,
pasukan elit TNI AL ini sukses menggerebek sebuah rumah singgah kelompok
separatis di kawasan Jalan Gunung, Distrik Dekai.
Penindakan taktis ini bermula dari informasi intelijen lapangan dan
operasi penyekatan terhadap sebuah mobil yang mengarah ke Kwelamdua sehari
sebelumnya. Dari giat tersebut, aparat menghentikan tiga pemuda Suku Kimyal,
yakni Akubur Keroman (25), Nikson Koldoman (20), dan Yorim Magayang (18).
Dari hasil pendalaman dan kroscek kepolisian, Nikson dan Yorim dipastikan murni warga sipil tanpa afiliasi separatis. Sebaliknya, Akubur teridentifikasi kuat sebagai kurir logistik OPM Batalyon Yalenang Kodap XVI.

Berbekal informasi dari Akubur, komando pasukan Marinir langsung
bermanuver pada pukul 03.20 WIT di bawah pekatnya malam. Operasi penggerebekan
ke rumah singgah sasaran berlangsung sangat terukur tanpa memantik satu pun
letusan peluru. Di lokasi, aparat menyita satu pucuk senjata api rakitan
kaliber 5,56 mm, amunisi, serta berbagai perlengkapan identitas dan atribut
Bintang Kejora.

Hasil interogasi lebih lanjut menyingkap tabir pasokan senjata kelompok
ini. Akubur, yang kooperatif dan diamankan tanpa perlawanan, mengaku diperintah
oleh atasannya, Koroway Odban, untuk menyiapkan persenjataan. Senjata rakitan
itu baru saja ia beli seharga Rp 1 juta pada 30 September 2026 dari seorang
anggota OPM bernama Apiten Kobak. Sedianya, pistol tersebut akan digunakan
untuk melancarkan aksi gangguan keamanan di wilayah Dekai.
Meski terbukti terafiliasi dan terlibat pengadaan senjata, rekam jejak
kepolisian menunjukkan Akubur belum pernah terlibat langsung dalam aksi
kriminalitas maupun kekerasan berdarah. Merespons hal ini, aparat memilih untuk
mengedepankan pendekatan restoratif. Menyadari kesia-siaan perjuangan
kelompoknya, sang mantan kurir itu akhirnya memilih jalan damai.
Sabtu (3/10/2026) pagi, Akubur secara sadar mengucap ikrar setia kepada
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan mencium Sang Saka Merah Putih.
Rangkaian langkah persuasif ini ditutup dengan penyerahan kembali Akubur
beserta dua rekannya kepada pihak keluarga.
Peristiwa ini menjadi bukti nyata bahwa ketegasan kebijakan keamanan
yang dipadukan dengan pendekatan humanis terbukti efektif dalam memutus urat
nadi logistik sekaligus mempersempit ruang gerak KKB di tanah Papua.