MAYBRAT – Gelombang kepulangan keluarga para petinggi dan simpatisan Organisasi Papua Merdeka (OPM) Kodap IV di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, terus mengalir deras sepanjang akhir September 2026. Lelah hidup berpindah-pindah selama bertahun-tahun di pedalaman hutan serta menghadapi krisis pasokan makanan yang kian menipis, puluhan anggota keluarga kelompok tersebut memilih turun gunung dan kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Keputusan ini juga tidak terlepas dari masifnya operasi patroli
persuasif dan pengamanan yang dijalankan oleh aparat gabungan TNI-Polri, salah
satunya Satgas Yonif 9 Marinir (Gobang VII) di wilayah Aifat Raya hingga
pesisir aliran Sungai Kamundan.
Tiga Gelombang Kepulangan Beruntun
Berdasarkan data yang dihimpun tim redaksi Papua Darkside,
kepulangan keluarga eks anggota kelompok bersenjata ini berlangsung secara
bertahap dalam kurun waktu dua pekan terakhir:
1.
Gelombang Pertama di Kampung Aisa (18 September 2026)

Tercatat sedikitnya 12 orang keluarga petinggi OPM Kodap IV turun
gunung, di antaranya keluarga inti dari Komandan Operasi Manfred Fatem (istri
dan anak-anak), keluarga Anton Fatem (Danyon Ayosami), hingga kerabat terdekat
lainnya.
2.
Gelombang Kedua di Kampung Fuog (27 September 2026)

Aparat Satgas Mobile Yonif 9 Marinir di Pos Fuog, Distrik Aifat Selatan,
menerima kedatangan Paulina Mate (41), istri dari Zeth Fatem. Paulina
memutuskan keluar dari persembunyian di hutan setelah empat tahun hidup dalam pelarian
demi menyusul suaminya. Rasa jenuh, himpitan bahan logistik, serta kerinduan
mendalam untuk mengasuh putranya, Wiro, menjadi dorongan kuat bagi Paulina
untuk kembali ke kampung halaman.
3.
Gelombang Ketiga di Kampung Imsun (30 September 2026)

Puncaknya terjadi pada Rabu (30/9), ketika empat istri tokoh OPM beserta
anak-anak mereka resmi dijemput oleh personel Marinir di Kampung Imsun, Distrik
Aifat Selatan. Mereka adalah Yusinta Fatem (istri Silas Ky), Diana
Martnipan (istri Yohanes Ky), Aucen Fatem (istri Arso Aisnak), dan Wehelmina
Mate (istri Markus Fatem).
Disambut Haru Melalui Doa Bersama
Setibanya di pemukiman, penerimaan warga difasilitasi dalam suasana
penuh kekeluargaan dan doa bersama di Kampung Imsun. Hadir dalam penyambutan
tersebut Wakil Bupati Maybrat Ferdinandus Salosa, Kapolres Maybrat, jajaran
Kodim 1809/Maybrat, Danpos TNI AL/Marinir, tokoh klasis gereja, serta Kepala
Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Ramandey.
Wakil Bupati Maybrat menegaskan bahwa pemerintah daerah membuka pintu
seluas-luasnya dan siap memberikan pendampingan sosial serta jaminan pemulihan
kesehatan bagi warga yang telah kembali.
"Pemerintah daerah menerima saudara-saudara kita dengan tangan
terbuka. Kami pastikan kebutuhan dasar dan kesehatan mereka diperhatikan dengan
baik agar dapat kembali berbaur dan merajut kehidupan baru yang layak," tutur pihak
Pemda Maybrat.
Komnas HAM: Jangan Ada Intimidasi

Sementara itu, Kepala Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Ramandey,
menekankan pentingnya pendekatan kemanusiaan dalam menangani proses reintegrasi
ini. Ia meminta masyarakat, aparat, maupun aparat pemerintah untuk tidak
melakukan tindakan intimidasi atau diskriminasi.
Aparat keamanan bersama jajaran tokoh adat dan tokoh gereja Aifat Raya
kini terus membuka ruang dialog persuasif bagi anggota kelompok lainnya yang
masih berada di dalam hutan agar tergerak untuk meletakkan senjata dan kembali
membangun Tanah Maybrat dalam damai.