GELAR DOKTOR PRODUSEN FEAR MONGERING, 6 KLAIM SOCRATEZ YOMAN TUMBANG DI HADAPAN DINDING FAKTA

Tulisan ini menilai pernyataan Socratez Yoman mengenai kondisi Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Prabowo sebagai narasi yang tidak didukung data yang memadai. Penulis berpendapat bahwa sejumlah klaim tentang meningkatnya kemiskinan, melemahnya ekonomi, dampak Program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga memburuknya demokrasi bertentangan dengan indikator yang disebutkan, seperti data BPS mengenai tingkat kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, pelaksanaan program MBG, serta penegakan hukum terhadap tindak pidana korupsi. Berdasarkan sudut pandang tersebut, narasi yang disampaikan dinilai lebih bersifat provokatif daripada analitis dan dinilai mengabaikan berbagai indikator yang menunjukkan perkembangan ekonomi, sosial, dan tata kelola pemerintahan.

GELAR DOKTOR PRODUSEN FEAR MONGERING, 6 KLAIM SOCRATEZ YOMAN TUMBANG DI HADAPAN DINDING FAKTA
GELAR DOKTOR PRODUSEN FEAR MONGERING, 6 KLAIM SOCRATEZ YOMAN TUMBANG DI HADAPAN DINDING FAKTA

Narasi Socratez Yoman pada 13 Juli 2026 yang meramal kejatuhan Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Prabowo bukanlah kritik yang mendidik, melainkan bentuk halusinasi naratif yang miskin data dan kaya provokasi. 

Sangat disayangkan seorang tokoh bergelar doktor dan gembala justru memproduksi kepanikan palsu (fear mongering) alih-alih memberikan edukasi berbasis realitas. 

Menuding Indonesia dalam bahaya maut tanpa menyajikan satu pun angka valid hanya memperlihatkan bahwa argumennya tidak dibangun di atas ruang analisis, melainkan dari ruang kebencian yang subjektif. 

Ketika sebuah klaim bombastis dihadapkan pada dinding data makroekonomi yang rigid, seluruh retorika kosong tersebut langsung runtuh dan berantakan dalam sekali pukul.

Tudingan bahwa kemiskinan meningkat tajam adalah kebohongan publik yang paling mudah ditelanjangi oleh kenyataan. Realitasnya, data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka kemiskinan Indonesia justru berhasil ditekan turun secara konsisten hingga menyentuh level 8,25%

Menuduh negara ini miskin secara masif di tengah fakta penurunan angka kemiskinan adalah bentuk pengabaian yang disengaja terhadap kerja keras jutaan pelaku UMKM, petani, dan program jaring pengaman sosial yang sedang bergerak di lapangan. Ekonomi domestik kita pun justru melesat solid dengan pertumbuhan mencapai 5,61% pada Kuartal I-2026. Angka-angka ini adalah tamparan keras bagi siapa saja yang hobi meramal kebangkrutan bangsa dari balik layar ponsel mereka.

Lompatan logika Socratez kian menggelikan saat ia menuntut penghentian Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan dalih menyelamatkan mata uang. Mengaitkan program domestik ini dengan fluktuasi Rupiah terhadap Dolar AS adalah bukti kedangkalan pemahaman makroekonomi Sang Doktor, sebab dinamika kurs murni dipengaruhi oleh sentimen geopolitik global dan kebijakan suku bunga ketat bank sentral AS (The Fed). 

Alih-alih membebani, program MBG justru menjadi roda penggerak ekonomi riil di tingkat akar rumput yang menyerap hasil panen petani, peternak lokal, dan memotong rantai stunting generasi masa depan. Meminta program ini dihentikan sama saja dengan meminta anak-anak Indonesia tetap kekurangan gizi dan mematikan pasar bagi para peternak lokal di desa-desa.

Tuduhan seputar matinya hukum dan hilangnya ruang demokrasi juga langsung mengunci mati kredibilitas argumennya sendiri. Fakta bahwa Socratez Yoman bisa menulis tuduhan sekasar dan sebebas itu di media sosial tanpa ada hambatan hukum adalah bukti paling sahih dan tak terbantahkan bahwa demokrasi Indonesia masih dirawat dengan sangat baik. 

Di saat yang sama, ketegasan hukum justru sedang berada pada posisi paling agresif, di mana Kejaksaan Agung dan KPK terus memburu, menyita aset, dan menyeret para koruptor kakap ke jeruji besi tanpa pandang bulu. Menuduh militer mengambil alih ruang sipil juga merupakan paranoia usang yang menggelikan, mengingat TNI hari ini bergerak humanis dalam koridor operasi selain perang demi membantu pembangunan infrastruktur di daerah tertinggal dan perbatasan.

Sebagai penutup yang menohok, sudah saatnya Socratez Yoman menyadari bahwa Indonesia tahun 2026 tidak sedang berjalan menuju keruntuhan seperti yang ia impikan dalam narasi pesimistisnya. 

Bangsa ini sedang bergerak maju dengan fondasi ekonomi yang kokoh dan penegakan hukum yang bertenaga. Berhentilah memproduksi narasi ketakutan yang tidak laku di kalangan masyarakat cerdas. 

Jika ingin mengkritik jalannya pemerintahan, bicaralah dengan menyodorkan angka dan solusi yang valid, bukan dengan mengumbar ilusi dan dongeng kecemasan yang hanya mempermalukan gelar Doktor Anda sendiri.
Terakhir diperbarui: 25 Jul 2026 02:10
โ† Lihat Semua Opini